Cinta dan Rasa Sakit

Jatuh cinta bukanlah perkara mudah
Cinta tidak mutlak memberi kebahagiaan
Ada kalanya, cinta itu memberikan rasa sakit dan kepedihan
Jatuh cinta pada seseorang adalah pilihan yang tidak terprediksi sebelumnya
Karena, cinta hadir begitu saja dengan lancangnya tanpa permisi
Tidak ada alasan pasti kenapa hati dan fikiran selalu tertuju padanya
Merasa sedih dan kecewa saat dia mengabaikan
Frustasi saat dia menjauh
Putus asa saat dia menghilang begitu saja tanpa kabar sedikitpun
Air mata terkadang bisa menjadi media untuk menumpahkan semuanya
Rasa kecewa, putus asa, dan rasa tidak di inginkan dalam satu waktu
Kenapa?
Kenapa.... MENCINTAIMU HARUS SESAKIT INI?

PERPISAHAN

Saat hati telah memilih kepada siapa dia akan melabuhkan perasaannya
Saat mata telah memfokuskan pada siapa dia akan selalu melihat
Saat mulut telah mengikrarkan nama siapa yang akan selalu dia sebut dalam setiap do'a dan pengharapannya
Saat otak kanan dan kiri telah bersinergis siapa yang akan selalu dia fikirkan
Kebahagiaanya, kesakitannya, kepedihannya, rasa kecewanya
Saat tangan telah mengetahui pada siapa dia akan menggenggam, pada siapa dia akan berpegangan
Saat kaki telah mengetahui tujuan dari setiap langkahnya, kepada siapa dia akan berlabuh
Kenapa?
Kenapa semuanya harus terhenti hanya dengan satu kata
PERPISAHAN
Yang akan meninggalkan sebuah luka tak kasat mata
Membuat lubang yang menganga di relung hati
Merasakan sakit yang tidak mengeluarkan darah
Dan, mungkin membutuhkan waktu yang sangat lama untuk benar-benar menyembuhkannya
Jika memang setiap pertemuan harus diakhiri dengan PERPISAHAN
Kenapa aku harus dipertemukan dengannya?
Dengan dia yang bisa menyita seluruh perhatianku
Membuatku merasakan warna lain dari sebuah rasa yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya
Tapi, jika dengan perpisahan bisa membuatmu lebih bahagia, InsyaAlloh aku ikhlas
Ikhlas untuk melepasmu yang pernah menjadi bagian di dalam hidupku
Yang pernah mengenalkan rasa manis dari sebuah cinta
Yang pernah mengenalkanku bagaimana rasanya cemburu
Yang pernah mengenalkanku pada rasa gelisah
Dan, menyeretku untuk merasakan kehilangan

Sakit Gigi vs Sakit Hati, Pilih Mana?

Kalau di suruh milih diantara sakit gigi sama sakit hati, tanpa keraguan saya akan memilih lebih baik sakit hati.

Why? Aneh? Biarin, saya ini. Yang penting kamu jangan ikutan aneh, ya! :)

Serius! Saya mah lebih milih sakit hati daripada sakit gigi. Sakit hati mah cuma nyesek doang. Bentaran juga ilang. Kalau kata kids zaman now mah, sakit tapi nggak berdarah, itulah sakit hati. Masih bisa ditanggulangi lah rasa sakitnya. Beda banget sama sakit gigi.

Bayangkan sodara-sodara! Saat gigi ini terasa sakit, nyut-nyutan, kesiksa banget. Makanya, saya bener-bener nggak setuju sama lirik lagunya Alm.Meggy Z yang bilang "Lebih baik sakit gigi, dari pada sakit hati inii... biar tak mengapa" (malah jadi ikutan nyanyi saya).

sakit gigi vs sakit hati
Gambar dapet nyomot dari google

Pengalaman, ya?

Iya. Ini pengalaman saya. Dua hari berturut-turut saya nggak bisa tidur gegara sakit gigi yang keseringan kambuh pas malem hari. Alhasil pas kerja sering ngantuk. Percaya atau nggak, pas siang harinya mah biasa aja, nggak ada sakit sedikitpun. Lah, pas malemnya, hayati nggak kuat sampai nungging-nungging sebagai upaya mengurangi rasa nyerinya, tapinya nggak berhasil (saya waktu itu lupa kalau sakit gigi beda sama sakit pas mesntruasi, nggak bisa ilang sakitnya dengan nungging).

Gigi yang sakit ini adalah gigi yang pernah di tambal waktu saya SD kelas 5. Padahal mah, ya, saya teh rajin sikat gigi dua kali sehari (pagi sama malem), tapinya tetep aja ngalamin sakit gigi. Anehnya, di sekitar area yang sakit itu nggak pernah bengkak, lho. Saya juga nggak tau kenapa.

Saya masih ingat, waktu itu saya sampai nangis gogoleran di lantai, meraung-raung gegara sakitnya nggak ketahan. Kalau di kasih toa, mungkin tangisan saya itu bisa bangunin satu kampung. Lebay? Biarin, kan, saya yang lebaynya juga. Asalkan kamu jangan ikutan lebay.

Pas saya lagi nangis itu, Mama saya dateng ke kamar.

"Neng, kunaon eta ceurik teh meni jiga nu di tinggal paeh salaki, meni eur-euran kitu. Gandeng! geus peuting,"

Artiin jangan? Artiin aja ya, kasian, kan yang nggak ngerti. Kurang lebih artinya gini "Neng, kenapa nangis sampai begitunya, seperti yang di tinggal mati suami aja. Berisik! udah malem," gitu katanya.

Si Mama nggak tau aja ini gigi lagi sakit, lebih sakit daripada di PHP in ataupun di abaikan oleh orang yang kita sayang. Gubrak! Malah curcol.

Bukannya jawab pertanyaan Mama, malah tambah kenceng saya nangisnya. Biarin. Da atuh sakit banget.

Karena nggak tahan lagi, sambil inghak-inghakan saya gugling ke si mbah dengan kata kunci "Cara Cepat Menghilangkan Sakit Gigi Dalam Waktu 5 detik". Banyak banget artikel yang muncul. Ada beberapa situs yang saya kunjungi waktu itu. Beberapa diantaranya menyarankan untuk:

Berkumur dengan air hangat yang dicampurin garam. Saya coba cara ini. Hasilnya? Nol besar. Gigi saya masih aja sakit.

Lanjut ke cara yang kedua, yaitu dengan menggunakan campuran bawang putih sama garam. Hasilnya? Topcer sodara-sodara. Saya waktu itu pakai satu siung bawang putih yang dihaluskan dengan garam, kemudian ramuan tersebut saya tempelin ke gigi yang sakit. Sakitnya memang hilang, tapi napas saya jadi bau naga. Jangan di tahan! Kalau mau ketawa mah ketawa aja, saya juga nggak liat.

Ramuan itu di malam pertama saya sakit gigi emang ampuh. Tapi, di malam berikutnya nggak mempan sama sekali. paling efeknya cuma beberapa menit aja, habis itu sakit lagi. Saya sampai bikin ramuan itu berulang-ulang, lima kali mah ada kayaknya.

Setelah drama nangis-nangis semaleman, paginya Mama saya nyuruh periksa. Setelah ijin nggak masuk kerja, saya langsung meluncur ke puskesmas di antar paman saya. Di kampung saya klinik gigi jarang, kalaupun ada jauh. Pagi-pagi belum buka. Saya masih ingat, hari itu adalah Jum'at.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya giliran saya di periksa tiba. waktu itu saya diperiksa sama ibu-ibu, mungkin umurnya sekitar 45-50 tahunan. Ibu ityu bilang gigi saya tis tis gitu belakangnya. Apa ya? saya lupa.

Setelah itu, saya terus di periksa langsung sama dokternya. Bu DokGi bilang, mau di tambal apa di cabut aja? Dengan mantapnya saya bilang di cabut bu dokter.

Saya dikasih obat (3 jenis kalau nggak salah, gede-gede lagi), terus di suruh datang lagi hari selasa, setelah obatnya habis. Saya juga dikasih tahu, sebelum cabut gigi, saya harus sarapan dulu sama tidur yang cukup, jangan begadang.

Pertamanya saya fikir cabut gigi itu nggak sakit. Karena, pas SD saya juga pernah dicabut gigi di klinik (yang nyabutnya ganteng banget, lho. Namanya Mas Hendra, saya masih inget sampai sekarang, haha). Tapi, nyatanya apa? Sakit sodara-sodara. Dulu sebelum dicabut saya disemprotin bunga es, tapinya yang pas di puskesmas itu di biusnya di suntik. Serius! Saya paling takut sama jarum suntik, bahkan waktu SD saya pernah kabur karena nggak mau di kuris/vaksin.

 "Pak, itu jarum buat nyuntik saya?"
"Iya. Jadi enggak di cabutnya?"

Saya nggak langsung jawab. Ssaya mikir dulu. Kalau nggak di cabut sekarang, mungkin saya nggak bisa tidur lagi seperti malem-malem sebelumnya. Dengan sedikit rasa takut, akhirnya saya iyain.

Saya di suruh buka mulut. Saya fikir mau di baalin dulu, ternyata tanpa ba bi bu, si bapaknya langsung nyuntikin tuh jarum ke gusi saya. Kaget dong saya, mana sakitnya pas jarum itu menamcap di gusi saya kerasa banget lagi. Saya sampe ngeluarin air mata, lho.

Stelah efek anestesinya bekerja, mulut saya terasa kebas, kaya kesemutan gitu. Si bapaknya bilang "Kerasa, nggak?" sambil ngetuk-ngetukin jarinya di area rahang saya. Saya bilang "nggak. Kaya kesemutan, Pak,"

Proses pencabutanpun di mulai. Sebelum di cabut sama alat yang mirip tang, gigi saya di goyang-goyangin dulu, di dorong-dorong gitu. Sebagai informasi, gigi saya yang mau di cabut itu emang nggak giyang, masih cukup kuat. Jadinya lama proses pencabutannya. Dua kali kalau nggak salah. Jadi, giginya nggak utuh, dicabutnya sebagian-sebagian.

Setelah gigi saya di cabut, ALhamdulillah nggak ada sakit-sakit lagi. Sampai sekarang. Oh iya, pasca di cabut gigi juga biasa aja, nggak bengkak, nggak sakit, dan nutupnya juga cepat, nggak sampai seminggu kalau nggak salah.

Jadi, kalau di suruh milih antara sakit gigi dan sakit hati, saya sudah pasti akan pilih sakit hati (walaupun nggak mau ngalamin keduanya sih).

Kalau kalian lebih pilih mana?
Diberdayakan oleh Blogger.