Tidak Apa, Pergi Saja!

Tanpa kita sadari, selalu ada alasan kenapa kita dipertemukan dengan seseorang, walaupun pada akhirnya harus berpisah dengan saling menyakiti. Ah, tidak. Tepatnya kamu yang menyakiti aku.

Setiap orang bebas berkoar menyuarakan pendapatnya tentang mana yang baik dan buruk untuk kita. Tapi, DIA lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.

Foto : pinterest.com

Tidak bersama bukan berarti harus saling membenci. Tidak bersama bukan berarti harus memutuskan silaturahmi. Tidak bersama bukan berarti harus memupuk dendam karenanya.

Melepaskan akan jauh lebih baik dilakukan untuk mempersiapkan hati manyambut sosok yang baru. Sosok yang seharusnya lebih baik dari dia yang pergi begitu saja, tanpa alasan, tanpa kejelasan.

Karena, hidup tidak hanya berhenti pada satu titik. Masih ada titik-titik lain yang harus dilewati. Dengan warna yang lebih banyak. Entah itu putih atau gelap, atau mungkir warna-warni seperti pelangi dengan rasa yang seperti nano-nano.

Sudahlah. Aku akan berhenti mengharapkan kamu untuk kembali. Dengan siapapun kamu akhirnya. Aku harap kamu akan mendapatkan kebahagiaan.

Dan, semoga aku bisa mendapatkan sosok pengganti yang lebih baik dari kamu, yang mampu membawaku menjadi manusia yang lebih baik, lebih taat, dan bisa membimbingku untuk mendapatkan surga-Nya.

Akhirnya Nonton Film Dilan 1990 Juga

Fyuh.... Finally, saya akhirnya kesampaian juga nonton filmnya Dilan 1990 yang diperankan oleh Iqbaal sebagai Dilan dan Vanesha sebagai Milea-nya.


Ini mah bukan review, ya. Cuma, mau nyampein perasaan saya aja pas tahu Dilan mau di filmkan sampai akhirnya hari ini saya bisa nonton versi filmnya.

Pertama kali kenal Dilan (versi novel) itu dari temen. Kalau nggak salah tahun 2015 apa 2016 san akhir, saya lupa tahun berapa (maklum faktor U hihi), bulannya Nopember deh kayaknya kalau nggak salah.

Pertamanya, sih, nggak tertarik, ya. Secara covernya biasa aja (menurut saya, lho). Maaf, ya, Mas Pidi Baiq. Nggak ada maksud apa-apa, lho, saya. Seperti biasa, saya dikasih dulu pribahasa "Don't judge a book by trhe cover" sama temen saya. It's okay kata saya. Nggak ada salahnya saya coba baca. Karena pada dasarnya saya emang suka baca.

Dan ternyata.... saya jatuh cinta sama novel Dilan ini. Saya sudah baca ke 3 bukunya. Mulai dari Dilan 1990, Dilan 1991 sampai yang Milea saya sudah baca.

Isi novel ini nggak terlalu berat dan sering bikin saya ketawa-ketiwi sendirian pas baca. Beuh... apalagi itu, ya, sama gombalannya si Dilan, duh... makin jatuh cinta aja saya sama novelnya Mas Pidi Baiq ini.

Sampai akhirnya tahun 2017 kemarin saya baca di sebuah portal berita yang mengatakan, bahwa, Dilan akan di filmkan. Excited banget pastinya, dan penasaran dengan pemerannya. Enggak kecewa pas di umumin kalau Iqbaal yang bakalan jadi Dilan. Saya mah, siapapun aktornya, yang penting dia bisa masuk dalam karakter yang dia mainkan.

Saya sama temen sekantor udah pada nggak sabar dari bulan November kemarin nungguin film-nya Dilan 1990 ini rilis. Kita nunggu, nunggu dan terus menunggu seperti saya yang sedang menunggu calon imam saya datang ke rumah untuk menghalalkan saya yang saya sendiri masih nggak tahu calon imam saya ada di mana #eaakk malah curhat.

Sampai akhirnya tibalah tanggal 25 Januari kemarin dimana film dilan mulai di tayangkan di bioskop-bioskop kesayangan kita semua. Sayangnya, saya dan teman-teman kerja saya nggak bisa nonton pada hari pertama.

Selain karena takut penuh, jam kerja kita juga agak nggak memungkinkan. Jadilah kita jadwalin hari ini (Senin, 29 Januari 2018) untuk nonton Dilan sama-sama. Saya seperti biasa jadi seksi uncag-incig (kesana-kemari). Saya kebagian buat beli tiket. Karena saya nggak pake aplikasi, jadilah saya harus datang ke TKP untuk membeli tiketnya.

Dan, tahukah kalian? Saya fikir karena hari senin, nggak terlalu begitu ngantri. Ternyata saya salah. Antriannya panjang banget. Ada kayaknya satu jam saya antri. Nggak tahu mereka emang pada bolos atau gimana, di sela-sela antrian itu saya lihat ada anak sekolahan SMP sama SMA. Secara di kota saya tercintah ini udah di terapin sistem full day school. Otomatis, seharunya mereka pada di sekolah, kan?



Photo di atas hasil documentasi temen saya

Untuk informasi, saya mengantri tiket film Dilan 1990 ini pas jam istirahat kerja (pukul 12.00 san). Alhasil saya telat deh masuk kerjanya. Jam setengah dua saya baru nyampe lagi di tempat kerja. Lama banget saya ngantri. Jarak tempat kerja ke mall cuma 15 menitan aja.

Agak kecewa juga, sih, sebenarnya. Karena, udah ngantrinya panjang, eh kebagian seat paling depan. Seat belakangnya udah pada penuh semua. Ahasil saya jadi nggak bisa diem pas nonton buat nyari posisi wuenak. Karena, pegel banget neik, saya harus agak mendongak. Untungnya temen saya pada nggak marah dapet seat paling depan (Alhamdulillah). Mereka mah anteng-anteng aja haha.

Yang lucu itu adalah ketika kita ada di parkiran. Jam pulang kita itu pukul 16.15, dan kita ambil jadwal film yang 16.45. Pas nyampe parkiran kta masih tenang karena masih ada waktu sekitar 10 menit lagi buat ke TKP. Eh, pas di eskalator ada ibu-ibu sama anaknya yang lari-lari. Dilannya udah main. Nggak tahu saking excitednya mau nonton Dilan atau gimana, kita (saya sama temen-temen) ikutan lari. Saya lupa kalau sebelum tayang itu suka ada thriler film coming soon. Bukannya malu, kita semua malah ketawa-ketawa pas udah nyampe di dalam theatre. Emang dasarnya kita mah gesrek semua. Meskipun kata mereka saya lah yang paling gesrek.

Secara keseluruhan, filmnya emang bagus, sesuai dengan isi novelnya. Ya... meskipun nggak semua yang ada di novel di visualisasikan ke film karena keterbatasan waktu. Saya nggak kecewa. Filmnya bikin baper. Aslinya. Temen saya aja nyampe kejet-kejet pas nonton haha...

Buat para single seperti saya, saya saranin jangan nonton film DIlan 1990 ini sendirian. Baper parah. Seenggaknya ajak lah temen yang sama-sama single. Jadi, nggak baper sendirian.

"Jangan nonton Dilan sendirian. Berat cuy"...

Sekian dan terima kasih curhatan yang nggak penting dari saya yang baik hati dan tidak sombong ini.

Kalau ada yang kebetulan nemuin postingan saya ini, silakan jangan sungkan untuk meninggalkan jejaknya pada kolom komentar, ya... :)

Sampai ketemu lagi di coretan nggak penting lainnya. Muach... muach... muach...

Ketika Single Datang Ke Undangan Nikahan

Photonya ngambil dari google. Saya nggak sempat photo2

Hari minggu kemarin saya dapet undangan nikahan, ada mungkin 3 undangan. Banyak banget dah dalam satu minggu harus menghadiri 3 undangan sekaligus, ya... walaupun pada hari yang berbeda, sih.

Tapi... tetep aja, kan. Tiga, lho, ini, bukan satu. Bisa panas nih kuping saya dengerin pertanyaan yang itu lagi itu lagi.

1. Ke sini sama siapa?
2. Gandengannya mana? (di kira truk kali ya pake gandengan segala :V)
3. Kok, sendirian aja? (ya terus? Harus gitu saya ajak satu kelurahan buat datengin nikahan kamu?)
4. Kapan nyusul? (InsyaAlloh secepatnya, ya... Do'ain aja)
5. Kapan nikah?

Kadang mah, ya, kalau ada yang nyinyirin single kaya saya ini dengan pertanyaan keramat "kapan nikah?", saya pengen jawab gini "Nanya mulu kapan nikah? Emangnya nikah perlombaan apa yang harus dulu-duluan?" atau begini "Jangan nanya mulu kapan nikah. Sini bawain saya jodohnya".

Kesel beut dah saya. Kan, jodoh, rezeki sama maut nggak ada yang tau. Semuanya sudah digariskan, sudah ditakdirkan sama Tuhan yang maha kuasa. Tinggal kitanya yang berusaha sebaik mungkin agar kita di berikan yang terbaik. Setuju, nggak?

Belum lagi orang rumah saat saya dapet undangan. Mereka malah nge-ceng-cengin saya gini "Di undang mulu, kapan ngasih undangannya?" Jleb banget, kan?

Seolah-olah single itu status paling lucknut yang ada di bumi ini selain jomblo. Kena bully mulu saya gegara masih single. Gini amat, ya, nasib singlelillah kaya saya.
Diberdayakan oleh Blogger.